Tapanuli Tengah || Karbonews.com — Aroma ketidakberesan dari proyek pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Desa simpang tiga Lae Bingke, Kecamatan Sirandorung, Kabupaten Tapanuli Tengah. Proyek prestisius di duga berbanderol fantastis sekitaran Rp1,6 miliar yang melibatkan pendanaan Agrinas, pihak ketiga, serta pengawasan TNI dan pemborong—kini justru ambruk sebelum sempat difungsikan dan berujung di duga mangkrak.
Alih-alih menjadi pusat penggerak ekonomi kerakyatan, bangunan bernilai lebih 1 miliaran rupiah itu kini bangunan ambruk sebahagian ke tanah, meninggalkan tumpukan kekecewaan mendalam dari masyarakat dan pengurus setempat.
Tanpa Sosialisasi Sejak Hari Pertama Warga setempat, Amiruddin Hasugian, menegaskan bahwa proyek ini berjalan secara sembunyi-sembunyi tanpa pelibatan warga. “Semenjak diletakkan batu pertama, tidak ada sama sekali sosialisasi terkait pembangunan Kopdes. Ternyata begitu bangunannya kami lihat sudah ambruk,” tegasnya
Di lokasi kejadian, pada hari kamis tgl 28 Agustus 2026 tidak ditemukan adanya papan informasi proyek (plang proyek) yang memuat transparansi anggaran dan spesifikasi teknis, menciderai prinsip keterbukaan informasi publik.
Wakil Pengawas Kopdes, Manihuruk Hasugian, mengungkapkan bahwa titik lokasi pembangunan sangat dipaksakan di atas struktur tanah yang labil dan berlokasi persis di atas jurang. Ia mendesak agar proyek ini dihentikan total atau dipindahkan ke titik koordinat yang lebih aman demi keselamatan.
Pengurus Hanya Dijadikan “Stempel”
Ironisnya, struktur kepengurusan formal Kopdes Merah Putih diperlakukan sebatas boneka administrasi. Ketua Kopdes Merah Putih, Saoloan Tumanggor, secara terbuka membongkar modus operandi proyek siluman ini. Pihaknya sama sekali tidak pernah dilibatkan dalam penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) maupun teknis pelaksanaan di lapangan.
Kami hanya menyediakan tempat berkas seperti MoU, IMB, dan sebagainya kami siapkan. Pernah kami sampaikan supaya kami dilibatkan sebagai pengurus, tapi tidak ada jawaban sama sekali, langsung dibangun secara tiba-tiba seperti itu,” ungkap Saoloan dengan nada Kecewa.
(Gabriel Ginting)

