PONOROGO,Karbonews.com || Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (DPP AWDI) memberikan perhatian mendalam terkait dinamika penyelenggaraan ajang lari Merdeka RUN Ponorogo 2026 yang berlangsung pada Sabtu (22/8). Peristiwa diskualifikasi yang menimpa AR, peserta kategori lari 10K berusia sekolah dasar (SDN 2 Ronowijayan), dinilai menjadi momentum krusial untuk melakukan evaluasi mendasar terhadap tata kelola event olahraga anak.
AR yang mengenakan nomor dada F10085 telah menunjukkan perjuangan luar biasa dengan menyelesaikan seluruh rute 10 kilometer hingga mencapai posisi kedua kategori putri. Namun, kebanggaan tersebut sirnah setelah pihak penyelenggara membatalkan status kemenangannya akibat kendala kelengkapan administratif—yakni tidak membawa perangkat Handphone/GPS serta Personal Aid Kit.
Ketua DPP AWDI menegaskan pentingnya penyempurnaan Standard Operating Procedure (SOP) penyelenggaraan acara agar penerapan regulasi berjalan sejajar dengan asas kepatutan dan perlindungan anak.
“Integritas aturan dalam kompetisi merupakan hal mendasar. Namun, ketika melibatkan peserta atlet usia dini, aspek verifikasi teknis idealnya diselesaikan secara tuntas melalui inspeksi sebelum perlombaan dimulai (pre-start inspection). Pelaksanaan diskualifikasi pasca-pengumuman kemenangan di garis finish menandakan perlunya perbaikan mekanisme pengawasan di lapangan agar tidak merugikan peserta yang telah berjuang,” tegas Ketua DPP AWDI.
AWDI menyoroti bahwa dampak emosional dari pembatalan gelar secara mendadak dapat memengaruhi kondisi psikologis dan semangat sportivitas anak. Sehubungan dengan hal tersebut, DPP AWDI merumuskan empat poin rekomendasi strategis bagi para penyelenggara kegiatan olahraga:
Penerapan Verifikasi Ketat Pre-Start: Memastikan seluruh syarat administrasi dan perlengkapan teknis diperiksa sebelum peserta dilepas di garis start guna mengantisipasi diskualifikasi susulan.
Harmonisasi Regulasi dan Teknologi: Mengintegrasikan fungsi teknologi seperti chip timing pada nomor dada dengan aturan tambahan agar menciptakan sistem penilaian yang transparan dan akurat.
Formulasi Aturan Ramah Anak: Menyusun regulasi khusus kategori anak yang memisahkan ketentuan kaku tingkat dewasa dengan pendekatan yang lebih edukatif.
Pendampingan dan Pemulihan Emosional: Mendorong panitia untuk membangun komunikasi persuasif bersama pihak keluarga guna memberikan apresiasi moral atas pencapaian fisik anak.
Melalui evaluasi ini, DPP AWDI berharap industri olahraga nasional semakin matang dalam menghadirkan ajang kompetisi yang profesional, akuntabel, serta kondusif bagi tumbuh kembang mental atlet muda Indonesia.
Yh

