September 25, 2026

Universitas Graha Ganesha Tampil di Forum Ilmiah Internasional ICCIT 2026, Dosen Paparkan Riset Digitalisasi Bisnis Fotografi

 

TANGERANG SELATAN, || Karbonews.Com – Universitas Graha Ganesha (UGG) memperluas kiprahnya dalam diseminasi penelitian melalui partisipasi dosen pada The 5th International Conference on Creative Communication and Innovative Technology (ICCIT 2026) yang digelar pada Kamis, 24 September 2026.

Pada forum akademik internasional tersebut, tim peneliti UGG yang terdiri atas Aep Saefullah, Hendra Candra, Nizar Zulkarnain, dan Riyawan Saputra mempresentasikan penelitian Paper ID 71 berjudul “The Impact of Management Information Systems on Product and Service Quality in Photography Business: A Phenomenological Study of AS Fotografi Kuningan.”

Materi konferensi mencantumkan seluruh penulis berasal dari Universitas Graha Ganesha, Tangerang Selatan.

Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya UGG untuk membawa hasil penelitian dosen ke ruang akademik yang lebih luas, terutama pada bidang yang mempertemukan manajemen, teknologi informasi, transformasi digital, kualitas pelayanan, dan pengembangan industri kreatif.

ICCIT 2026 mengusung tema “Orange Technology: Advancing Positive Computing Fostering Empathy and Well-Being for Societal Harmony.”

Berdasarkan Program Book, konferensi dilaksanakan secara hybrid dengan Universitas Bunda Mulia, Jakarta, sebagai tuan rumah.

Forum ini mempertemukan peneliti, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk berbagi hasil penelitian dan mendiskusikan perkembangan teknologi serta inovasi.

Konferensi tahun ini mencatat 561 paper yang masuk dan 231 paper diterima, atau sekitar 41 persen dari keseluruhan naskah yang diajukan.

Partisipasi ICCIT 2026 juga mencakup delegasi dari 17 negara yang tersebar di lima benua, menunjukkan luasnya jejaring akademik yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Menelaah Digitalisasi dari Perspektif Pengalaman Pelanggan
Riset yang dipresentasikan tim Universitas Graha Ganesha mengambil kasus AS Fotografi Kuningan.

Penelitian berangkat dari kondisi bisnis yang sebelumnya masih menghadapi pencatatan transaksi dan layanan secara manual, duplikasi data, kendala penyusunan laporan, serta proses pengambilan keputusan yang relatif lambat.

Tim peneliti kemudian melihat penerapan Management Information Systems (MIS) bukan hanya sebagai persoalan adopsi perangkat teknologi, tetapi dari sisi bagaimana sistem tersebut dirasakan oleh pelanggan.
Fokus penelitian diarahkan untuk memahami keterkaitan penggunaan MIS dengan kualitas produk, kualitas pelayanan, kepuasan pelanggan, dan keunggulan kompetitif dalam bisnis fotografi.

Perspektif ini menjadi penting karena transformasi digital pada usaha kreatif pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan efisiensi internal, tetapi juga pengalaman yang diterima konsumen.

Penelitian menggunakan desain fenomenologis dengan melibatkan 10 pelanggan dan dua staf.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur selama 30–45 menit. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan NVivo 12 melalui proses two-cycle coding, dengan saturasi data dan member checking sebagai bagian dari penguatan kualitas penelitian.

Temuan penelitian memperlihatkan bahwa pemanfaatan MIS membawa perubahan pada sejumlah aspek pelayanan dan operasional bisnis fotografi.

Materi yang dipresentasikan mencatat proses pemesanan menjadi 2,1 kali lebih cepat, sedangkan penggunaan proses digital berkaitan dengan penurunan kesalahan pesanan sebesar 63 persen. Pemanfaatan data untuk personalisasi layanan juga dikaitkan dengan peningkatan kepuasan sebesar 28 persen.

Meski demikian, penelitian menemukan bahwa kemudahan penggunaan sistem masih menjadi tantangan.

Sebanyak 40 persen pengguna yang tercatat dalam temuan penelitian mengalami kendala pada navigasi menu dan proses unggah gambar.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi tidak berhenti pada keputusan untuk menggunakan teknologi.

Kualitas antarmuka, kemudahan penggunaan, serta kemampuan pengguna berinteraksi dengan sistem turut menentukan manfaat yang dihasilkan.

Analisis penelitian selanjutnya menghasilkan enam dimensi utama, yakni product quality, service quality, customer value, operational effectiveness, application usability, dan business process integration.

MIS Bukan Sekadar Tempat Menyimpan Data

Salah satu gagasan penting dalam penelitian ini adalah perubahan cara pandang terhadap sistem informasi manajemen.

MIS tidak semata-mata berfungsi sebagai basis data, melainkan dapat menjadi infrastruktur yang menghubungkan berbagai aktivitas utama perusahaan.

Dalam kasus AS Fotografi Kuningan, sistem tersebut mencakup pengelolaan data pelanggan, penjadwalan dan kegiatan operasional, pemasaran dan promosi, persediaan dan keuangan, hingga dukungan terhadap pengambilan keputusan berbasis data.

Integrasi berbagai fungsi tersebut berkontribusi terhadap akurasi, ketepatan waktu, responsivitas, dan kepercayaan, yang selanjutnya mendukung konsistensi produk serta pengalaman layanan pelanggan yang lebih terstruktur.

Temuan ini memberikan perspektif bahwa teknologi memiliki nilai strategis ketika mampu terhubung dengan proses bisnis dan kebutuhan pengguna.

Dengan demikian, investasi digital tidak cukup hanya diarahkan pada penyediaan aplikasi, tetapi juga pada bagaimana sistem tersebut benar-benar digunakan untuk memperbaiki proses pelayanan.

Tiga Pelajaran bagi Pelaku Usaha Kreatif
Dari hasil penelitian tersebut, tim UGG mengemukakan tiga arah pengembangan yang dapat menjadi perhatian bagi pelaku usaha kreatif.

Pertama, sistem perlu dirancang dengan menempatkan pengguna sebagai pusat pengembangan.

Penyederhanaan navigasi, menu, dan alur pengunggahan gambar dapat membantu menciptakan pengalaman penggunaan yang lebih baik.

Kedua, kemampuan organisasi dalam memanfaatkan data perlu diperkuat.

Karyawan tidak hanya dituntut mampu mengoperasikan aplikasi, tetapi juga memahami informasi yang dihasilkan sistem untuk mendukung pelayanan yang lebih sesuai dengan karakteristik pelanggan.

Ketiga, MIS perlu dikelola sebagai platform yang terus berkembang. Pengujian kepada pengguna, penerimaan umpan balik, pengembangan sistem secara modular, dan penyempurnaan secara berkala menjadi bagian penting dari keberlanjutan transformasi digital.

Dengan pendekatan tersebut, transformasi digital dipahami bukan sebagai proses satu kali ketika perusahaan mulai menggunakan sistem baru.

Digitalisasi merupakan proses berkelanjutan untuk menyesuaikan teknologi, operasional bisnis, dan pengalaman pelanggan.

Momentum Penguatan Budaya Riset Universitas Graha Ganesha
Partisipasi pada ICCIT 2026 juga memiliki konteks penting bagi Universitas Graha Ganesha yang tengah memasuki fase baru pengembangan kelembagaan.

Penggunaan afiliasi Universitas Graha Ganesha, South Tangerang, Indonesia dalam Paper ID 71 menandai kehadiran identitas UGG dalam forum ilmiah internasional.

Aep Saefullah, S.HI., M.M., Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Graha Ganesha yang juga menjadi salah satu penulis penelitian, menilai keikutsertaan dosen dalam konferensi internasional perlu terus didorong sebagai bagian dari pengembangan ekosistem akademik universitas.

“Partisipasi dalam forum internasional memberikan kesempatan kepada dosen untuk menguji gagasan, memperoleh perspektif baru, sekaligus membangun jejaring akademik.

Bagi Universitas Graha Ganesha, kegiatan seperti ICCIT menjadi bagian dari proses memperkuat budaya penelitian dan meningkatkan diseminasi karya ilmiah dosen.”

Ia menambahkan, penelitian perguruan tinggi idealnya tidak berhenti pada kepentingan publikasi, tetapi mampu memberikan pengetahuan yang dapat digunakan untuk membaca dan menjawab persoalan di masyarakat maupun dunia usaha.

“Kasus bisnis fotografi menunjukkan bahwa transformasi digital harus dilihat dari manfaat yang benar-benar diterima pengguna.

Sistem informasi yang baik bukan hanya mempermudah pekerjaan internal perusahaan, tetapi juga harus mampu menghadirkan layanan yang lebih cepat, akurat, responsif, dan relevan bagi pelanggan.”

Membuka Ruang Kolaborasi Lintas Disiplin

Topik yang dibawa dalam ICCIT 2026 sekaligus membuka peluang bagi pengembangan penelitian lintas disiplin di lingkungan Universitas Graha Ganesha.

Kajian mengenai transformasi digital UMKM dan industri kreatif dapat mempertemukan perspektif manajemen, bisnis digital, ilmu komputer, serta sistem dan teknologi informasi.

Kolaborasi tersebut dapat diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan publikasi, tetapi juga mengembangkan model, aplikasi, sistem pendukung keputusan, maupun solusi digital yang dapat diterapkan oleh dunia usaha dan masyarakat.

Semangat tersebut memiliki keterkaitan dengan tema ICCIT 2026 yang menempatkan teknologi dalam kerangka yang berorientasi pada manusia.

Konsep Orange Technology dalam konferensi menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya dinilai berdasarkan efisiensi komputasi, tetapi juga dari kemampuannya memberikan manfaat bagi kesejahteraan manusia, membangun empati, dan mendukung harmoni sosial.

Dalam konteks penelitian tim UGG, pendekatan tersebut tercermin dari perhatian terhadap pengalaman pelanggan.

Sistem informasi tidak hanya dipandang dari sisi kecanggihan teknologi, tetapi dari sejauh mana teknologi mampu menciptakan proses layanan yang lebih baik.

Keikutsertaan dosen Universitas Graha Ganesha pada ICCIT 2026 dengan demikian menjadi bagian dari upaya memperluas diseminasi penelitian sekaligus membangun jejaring akademik pada tingkat internasional.

Bagi UGG, langkah tersebut juga menjadi bagian dari penguatan identitas sebagai universitas yang mendorong riset, inovasi, pemanfaatan teknologi, kolaborasi lintas disiplin, dan kontribusi keilmuan terhadap persoalan nyata masyarakat serta dunia usaha.

Berita Terkait