Jakarta,Karbonews.com || 17 Agustus 1945, pukul 10 pagi. Di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, dwitunggal Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi yang menandai lahirnya Republik Indonesia. Namun, sebuah bangsa baru tidak bisa sekadar lahir di satu sudut kota; ia harus didengar oleh dunia.
Di sinilah kisah salah satu pahlawan tanpa tanda jasa kita, Muhammad Yusuf Ronodipuro, dimulai. Sebuah kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan tekad baja untuk memastikan bahwa api kemerdekaan tidak padam di tengah penindasan.
Saat proklamasi dibacakan, Yusuf, seorang pemuda berusia 26 tahun, terkurung di dalam gedung Radio Hoso Kyoku (sekarang gedung RRI di Jalan Medan Merdeka Barat). Gedung itu dijaga ketat oleh prajurit Kempetai yang beringas sejak Jepang menyerah kepada Sekutu. Tidak ada yang boleh masuk atau keluar, dan siaran ke luar negeri dihentikan total. Yusuf dan staf lainnya terisolasi penuh, tanpa mengetahui peristiwa bersejarah yang sedang berlangsung di luar.
Namun, takdir berkata lain. Menjelang petang, seorang kurir dari kantor berita Domei, Syahruddin, berhasil menyusup melalui tembok belakang gedung. Ia membawa pesan dari Adam Malik: teks proklamasi telah dibacakan. Kabar ini bagaikan oase di gurun bagi Yusuf dan rekan-rekannya.
Yusuf Ronodipuro menyadari bahwa ini adalah momen krusial. Tanpa menunda waktu, ia segera bertindak bersama Bachtiar Loebis dan teknisi radio Joe Seragih. Mereka dihadapkan pada tantangan besar: semua studio dijaga ketat. Namun, takdir kembali berpihak. Yusuf mengingat sebuah studio siaran mancanegara yang sudah tidak aktif dan luput dari pengawasan Kempetai.
Masalahnya, studio tersebut tidak terhubung ke pemancar. Dengan keahlian Joe Seragih, mereka melakukan improvisasi teknis, mengalihkan kabel-kabel hingga studio tersebut akhirnya terhubung ke pemancar internasional.
Tepat pukul 19.00 WIB, dengan suara penuh tekad dan haru, Yusuf Ronodipuro membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh penjuru dunia. Dua puluh menit kemudian, ia membacakan naskah yang sama dalam bahasa Inggris, memastikan stasiun radio internasional seperti BBC London, Radio Amerika, dan Singapura dapat mengerti dan meneruskan kabar gembira ini.
Suara Yusuf mengudara, menembus blokade informasi dan mengabarkan kepada dunia bahwa sebuah negara baru telah lahir.
Namun, keberanian itu harus dibayar mahal. Siaran tersebut tertangkap oleh militer Jepang. Kempetai segera bereaksi keras. Yusuf dan Bachtiar Loebis disergap, dipukuli, dan disiksa dengan kejam. Dalam kemarahannya, seorang perwira Jepang bahkan sudah menghunus katananya dan hampir memenggal kepala Yusuf.
Nyawa Yusuf terselamatkan berkat intervensi seorang pegawai Nippon yang berteriak agar penyiksaan dihentikan, karena Jepang sendiri sudah menyerah. Meski selamat, Yusuf mengalami luka-luka parah. Dengan kondisi babak belur dan pakaian berlumuran darah, ia masih sempat bersepeda menuju rumah sahabatnya, pelukis Basuki Abdullah, sebelum akhirnya mendapatkan perawatan di RSCM.
Perjuangan Yusuf tidak berakhir di malam itu. Pada 11 September 1945, bersama para tokoh radio lainnya, ia mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI), sebuah institusi yang menjadi salah satu pilar penyiaran nasional hingga hari ini. Slogan yang ia cetuskan, “Sekali di Udara Tetap di Udara,” bukan sekadar jargon, melainkan janji yang ia tulis dengan darah dan pengorbanannya sendiri.
Muhammad Yusuf Ronodipuro, lahir di Salatiga pada 30 September 1919, berpulang pada 27 Januari 2008 dalam usia 88 tahun. Meskipun namanya mungkin jarang disebut di buku pelajaran sekolah, suaranya di malam 17 Agustus 1945 itu telah menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa.
Tanpa suaranya, dunia mungkin akan terlambat mengetahui keberadaan Indonesia sebagai negara merdeka. Kisah Yusuf Ronodipuro adalah pengingat bagi kita semua bahwa kemerdekaan ini diraih dengan penuh pengorbanan, dan suara kebenaran, sekecil apapun, memiliki kekuatan untuk mengubah jalannya sejarah.
Mari kita sejenak menundukkan kepala untuk mengenang dan mendoakan beliau.
Al-Fatihah…
Toni

