September 28, 2026

Diduga Aliansi Mahasiswa Kota Padangsidimpuan Lenyap Saat Rakyat Membutuhkan Suara Paling Keras

PADANGSIDIMPUAN,Karbonews.com || 13 Agustus 2026 — Di tengah gemuruh jeritan rakyat yang bergema dari ujung ke ujung Kota Padangsidimpuan, satu hal yang justru sangat mencolok dan memilukan: Aliansi Mahasiswa Kota Padangsidimpuan diduga terlelap dalam tidur panjang. Organisasi yang seharusnya menjadi garda terdepan penyuara aspirasi rakyat, kini justru lenyap tanpa suara saat masyarakat paling membutuhkan perisai dan perwakilan mereka.

Pernyataan tajam ini disampaikan oleh perwakilan masyarakat berinisial M.Hsb. yang mewakili suara warga terdampak bencana dan elemen masyarakat luas di Kota Padangsidimpuan.

Selama berbulan-bulan, rentetan dugaan penyimpangan besar terus terbongkar satu per satu:

– Manipulasi data korban bencana sebesar 66 persen — ratusan miliar rupiah diduga raib tanpa jejak.

– Dana bantuan Presiden Prabowo sebesar Rp4 Miliar dikatakan sudah tersalurkan, namun ribuan korban mengaku belum menerima sepeser pun.

– Dana pendidikan puluhan miliar rupiah diduga bermasalah, nama penerima PIP tercantum namun siswa belum pernah menerima uangnya.

– Proyek-proyek siluman dikerjakan tidak sesuai SOP, anggaran APBD diduga diborongkan untuk kegiatan di luar daerah.

– Wali Kota beserta jajaran diduga belum tersentuh hukum sedikit pun meski nama mereka muncul di setiap kasus besar.

Di saat rakyat berdiri sendiri menuntut keadilan, di saat aktivis dan tokoh masyarakat harus berjuang sendirian, Aliansi Mahasiswa Kota Padangsidimpuan yang seharusnya menjadi tulang punggung perjuangan rakyat justru tidak terlihat batang hidungnya. Tidak ada pernyataan, tidak ada aksi, tidak ada tuntutan. Seolah-olah mereka tidak mendengar jeritan rakyat yang memanggil-manggil.

“Di mana Aliansi Mahasiswa yang dulu lantang bersuara? Di mana mereka saat data korban bencana direkayasa? Di mana mereka saat ratusan miliar uang rakyat diduga dibawa lari? Di mana mereka saat anak-anak sekolah belum menerima bantuan pendidikan yang haknya? Apakah mereka sudah dibungkam? Apakah mereka sudah ditenangkan? Atau memang mereka lebih memilih tidur nyenyak di saat rakyat sedang menderita?” tegas M.Hsb.

“Apakah keanggotaan Aliansi Mahasiswa itu hanya nama di atas kertas? Apakah mereka bersatu hanya saat ada kepentingan sendiri, namun pecah dan diam saat rakyat membutuhkan perjuangan? Jika demikian, untuk apa keberadaan mereka? Untuk siapa mereka berdiri jika bukan untuk rakyat yang tertindas?”

Mewakili masyarakat, M.Hsb. kembali menuntut jawaban tegas:

– Apakah Aliansi Mahasiswa tidak mengetahui dugaan penyimpangan data bencana dan hilangnya ratusan miliar rupiah itu? Jika tahu, mengapa diam?

– Apakah mereka tidak mendengar jeritan korban bencana yang belum menerima bantuan hingga kini? Jika mendengar, mengapa tidak turun menyuarakan?

– Apakah mereka tidak peduli bahwa dana pendidikan anak-anak diduga juga bermasalah? Jika peduli, mengapa tidak ada tuntutan?

– Apakah ada janji, tekanan, atau kepentingan yang membuat mereka memilih diam dan membiarkan rakyat berjuang sendirian?

“Kami tidak meminta kalian bertempur dengan senjata. Kami hanya meminta kalian BERBICARA. Bersuara. Menuntut keadilan. Itulah tugas dan kewajiban kalian yang diamanatkan rakyat. Jika kalian tetap diam saat ini, maka jangan harap rakyat akan memandang kalian sebagai pelindung mereka di masa depan. Bangunlah sebelum rakyat kehilangan kepercayaan kepada kalian sepenuhnya!” — pungkas M.Hsb. dengan nada penuh harap namun juga tegas.

Berita Terkait