September 23, 2026

Warga Pematangsiantar Meninggal Dunia Saat CT Scan di Rumah Sakit, Keluarga Pertanyakan Prosedur Medis

Pematangsiantar,Karbonews.com  || Duka mendalam dirasakan keluarga besar Hotnida Simanjuntak setelah perempuan tersebut meninggal dunia secara mendadak saat menjalani pemeriksaan CT scan di RS Efarina Etaham Pematangsiantar, Seni  (14/9/2026).

Keluarga korban kini mempertanyakan standar penanganan medis serta prosedur yang diterima Hotnida sebelum menghembuskan napas terakhir. Mereka meminta pihak berwenang dan instansi terkait untuk mengusut kejadian tersebut guna mengetahui penyebab pasti kematian sekaligus memastikan apakah terdapat prosedur medis yang dilanggar atau tidak sesuai SOP.

Anak kandung korban, Mario Sirait, menceritakan bahwa ibunya memang memiliki riwayat kesehatan berupa stroke ringan. Kendati demikian, kondisi fisik Hotnida sebelum dibawa ke rumah sakit masih tergolong baik, sadar sepenuhnya, bahkan mampu berjalan sendiri serta tetap aktif menjalankan aktivitas sehari-hari di tengah masyarakat.

Diketahui, Hotnida selama ini dikenal sebagai sosok yang aktif berorganisasi dan tercatat sebagai Ketua Resor Keluarga Besar Putra-Putri (KBPP) Polri Pematangsiantar.

Kami memang ke IGD cuma mau cek kepala CT scan. Dari awal di resepsionis, kami sudah bilang ibu punya riwayat stroke ringan tapi masih bisa jalan dan bekerja,” ujar Mario kepada wartawan , Senin (14/9/2026).

Menurut Mario, setibanya di Instalasi Gawat Darurat (IGD), proses awal berjalan normal. Pihak medis melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, tekanan darah, hingga jantung dengan hasil baik. Perawat juga sempat memasang jalur infus, meskipun tidak dilakukan pemeriksaan darah laboratorium terlebih dahulu.

Waktu dokter jaga tanya soal riwayat medis, saya bilang ibu dulu pernah berobat ke dokter saraf 2025. Saya juga jelasin, ibu agak susah kalau ngomong dan tangan kanan susah digerakkan karena stroke. Tapi tubuh dan matanya masih responsif,” kenang Mario.

Setelah rangkaian pemeriksaan awal selesai, dokter IGD langsung mengarahkan korban ke ruang Radiologi untuk menjalani pemindaian CT scan. Namun, kendala teknis terjadi di tengah proses pemeriksaan.

“Pengambilan gambar pertama dan kedua gagal, karena ibunya masih bergerak. Petugas bilang fotonya diulang lagi. Nggak lama perawat IGD masuk, katanya atas perintah dokter, ibu harus disuntik penenang bius supaya nggak bergerak,” ungkap Mario.

Merasa ada kejanggalan dan ketidaknyamanan, Mario sempat melayangkan penolakan. Ia mengaku khawatir mengingat riwayat stroke yang diderita ibunya, terlebih tidak ada penjelasan medis mendalam, edukasi risiko, maupun lembar persetujuan tindakan medis (informed consent) yang disodorkan untuk ditandatangani keluarga.

“Saya bilang ke perawat, jangan dibius, ibu punya riwayat stroke. Tapi dokter IGD yang ikut ke ruang CT scan malah meyakinkan, katanya aman. Karena dijamin dokternya aman, suntikan tetap diberikan lewat infus,” tutup Mario.jh

Berita Terkait