JAKARTA,Karbonews.com || Setiap hari, ribuan penumpang lalu lalang di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Namun, tak banyak yang mengenal sosok di balik nama pangkalan udara tersebut. Ia adalah Abdul Halim Perdanakusuma, pemuda asal Madura yang memiliki pengalaman tempur tingkat dunia jauh sebelum Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) resmi berdiri.
Rekam Jejak di Perang Dunia II
Sebelum Indonesia merdeka, Halim telah terlibat dalam pertempuran sengit di Eropa. Ia bergabung dengan Angkatan Udara Kerajaan Kanada (RCAF) dan Angkatan Udara Inggris (RAF) pada Perang Dunia II. Bertugas mengendalikan pesawat pembom Lancaster untuk menggempur markas Nazi Jerman, ia dijuluki “The Black Mascot”. Julukan ini melekat karena keberadaannya kerap membawa keberuntungan—setiap misi yang diikutinya selalu berhasil dan seluruh kru kembali dengan selamat.
Menolak Kenyamanan di Eropa demi Kemerdekaan
Usainya Perang Dunia II membuka peluang bagi Halim untuk menetap dan menikmati hidup nyaman sebagai veteran di Eropa. Kendati demikian, mendengar berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia memilih melepas seluruh kenyamanan tersebut dan kembali ke tanah air.
Dalam pertemuannya dengan Soerjadi Soerjadarma (Bapak AURI), Halim menyatakan kesiapannya untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Arsitek Strategi Udara Indonesia
Di tengah keterbatasan armada militer Indonesia yang saat itu mengandalkan pesawat bekas peninggalan Jepang, Halim memanfaatkan pengalaman internasionalnya untuk membina para penerbang muda. Ia menyusun standar pelatihan penerbangan sekaligus merancang strategi serangan udara pertama Indonesia terhadap kedudukan Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.
Misi Rahasia dan Tragedi Tanjung Hantu
Pada tahun 1947, ketika Belanda melakukan blokade terhadap Indonesia, Halim mengemban misi diplomatik dan logistik super rahasia ke Thailand (Siam) untuk menembus blokade serta mengusahakan persenjataan dan perlengkapan medis.
Menggunakan pesawat Avro Anson RI-003 bersama Opsir Iswahyudi, misi pembelian senjata tersebut berhasil dituntaskan. Namun, dalam penerbangan kembali menuju tanah air pada 14 Desember 1947, pesawat yang mereka kemudikan terjebak cuaca buruk dan kabut tebal di kawasan Lumut, Malaysia. Pesawat tersebut jatuh di Labuhan Bilik Besar, Tanjung Hantu, dan mengakibatkan Abdul Halim Perdanakusuma beserta Iswahyudi gugur dalam tugas.
Penghormatan Akhir
Jenazah Abdul Halim Perdanakusuma sempat dimakamkan di Malaysia sebelum dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, pada tahun 1975. Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah mengabadikan namanya menggantikan “Lapangan Udara Tjililitan” menjadi Pangkalan Udara/Bandara Halim Perdanakusuma.
Nama besar ini menjadi pengingat akan dedikasi seorang perwira muda yang mempertaruhkan nyawa di angkasa demi tegaknya kedaulatan Republik Indonesia.

