BOGOR,Karbonews.com || Nama Kapten Tubagus (T.B.) Muslihat telah abadi dalam lembaran sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai pahlawan nasionalis asal Bogor, kisah hidup dan pengorbanannya menjadi teladan abadi bagi generasi penerus bangsa.
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Tubagus Muslihat lahir di Pandeglang, Banten, pada tanggal 26 Oktober 1926. Ia merupakan putra pertama dari pasangan Tubagus Djuhanuddin, seorang Kepala Sekolah Rakyat, dan istrinya. Sebagai penyandang gelar kebangsawanan Banten “Tubagus”, Muslihat tumbuh dalam lingkungan keluarga terdidik.
Pendidikan dasarnya ditempuh di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Rangkasbitung dan Jakarta hingga lulus pada tahun 1940, kemudian melanjutkannya ke jenjang MULO. Sebelum terjun ke dunia militer, ia sempat bekerja di Bosbouw Proefstation (Balai Penelitian Kehutanan) Gunung Batu, Bogor, serta pernah mengabdikan diri sebagai juru rawat di Rumah Sakit Kedung Halang, Bogor.
Karier Militer dan Kiprah Pertempuran
Pada tahun 1944, Muslihat menikah dengan Kartinah, seorang gadis asal Bogor. Di tahun yang sama, semangat kebangsaannya mendorong Muslihat untuk bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk pada masa pendudukan Jepang. Karena kecakapan dan ketegasannya, ia diangkat menjadi Shudanco (Komandan Peleton).
Pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Muslihat aktif menghimpun para pemuda di Bogor untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ia dipercaya mengemban amanah sebagai Komandan Kompi IV Batalyon II TKR Bogor dengan pangkat Kapten (Letnan Satu).
Di bawah kepemimpinannya, Kompi Kapten Muslihat menjadi garda terdepan dalam menghadang pergerakan tentara Sekutu (Inggris) dan NICA (Belanda) yang ingin merebut kembali kekuasaan di kawasan strategis Bogor.
Pertempuran Terakhir dan Peristiwa Gugur
Puncak aksi heroik Sang Kapten terjadi pada 25 Desember 1945 dalam pertempuran sengit di sekitar kawasan Bantenweg (kini Jalan Kapten Muslihat), tepat di dekat Istana Bogor dan Stasiun Bogor.
Kapten Muslihat memimpin penyerangan terbuka ke markas pertahanan tentara Sekutu. Saat mengomandoi pasukannya di barisan paling depan, sebuah tembakan dari pihak musuh mengenai perutnya. Kendati menderita luka tembak parah, perwira muda yang baru berusia 19 tahun tersebut pantang menyerah dan terus memberikan instruksi kepada pasukannya untuk terus maju membela kedaulatan negara.
Ia dievakuasi ke kediamannya di Jalan Panaragan Kidul No. 25, Bogor, dan menghembuskan napas terakhir di pangkuan istrinya, Kartinah, yang saat itu sedang mengandung anak pertama mereka.

