Sibolga, Karbonews.com || Suasana panas dan penuh ketegasan mewarnai aksi unjuk rasa di depan pagar Kantor Walikota Sibolga pada Senin, 27 Juli 2026. Jurnalis yang tergabung dalam Organisasi Pro Jurnalis Media Siber bersama Aliansi Wartawan Sibolga-Tapanuli Tengah (Tapteng) turun ke jalan untuk melakukan perlawanan terbuka.
Aksi sejumlah wartawan ini merupakan bentuk kekecewaan atas insiden arogansi dan pengusiran wartawan yang secara sewenang-wenang dilakukan pada 13 Juli 2026 lalu di Kantor Camat Sibolga Utara.
Mendesak Polres Sibolga Transparan, Kasus Hukum Jangan Mandek!
Dalam orasinya, para koordinator aksi secara bergantian mengecam keras sikap antikritik para pejabat daerah. Koordinator Aksi, Milson Silalahi, dengan tegas mendesak jajaran Polres Sibolga agar segera menindaklanjuti laporan hukum terkait dugaan pelecehan profesi wartawan yang melibatkan Pelaksana Harian (Plh) Asisten Pemko Sibolga, Denni Aprilsyah Lubis.
Kami minta yang terhormat Bapak Denni Aprilsyah Lubis silahkan datang kesini. Ingat ya, laporan kami atas nama wartawan masih ada di Polres Sibolga terkait perkara postingan sampai sekarang belum dijawab apakah sudah SP3 atau ditindaklanjuti. pelaporannya saya ikut dan ini yang kedua kalinya beliau melecehkan omongan di depan wartawan,” seru Milson Silalahi di hadapan aksi wartawan dengan nada berapi-api.
Wartawan yg demo menilai oknum pejabat tersebut kerap melontarkan pernyataan diskriminatif, merendahkan marwah insan pers, serta menjadikan sertifikasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sebagai alat untuk memecah belah dan mengkotak-kotakkan jurnalis di daerah.
Aksi demonstrasi ini turut disuarakan oleh para tokoh wartawan senior, termasuk perwakilan Majalah CEO Ranto Lumban Gaol serta wartawan senior Herbert Sitohang. Para orator menegaskan bahwa pers bukanlah musuh pemerintah, melainkan pilar keempat demokrasi yang kedudukannya dilindungi secara konstitusional berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Orator aksi lainnya, Sudirman Halawa, menyoroti rendahnya etika birokrat yang justru mencederai muruah aparatur sipil negara (ASN). Ia membandingkan sikap ramah pimpinan tertinggi di kota Sibolga yang tidak pernah mengusir jurnalis dengan tabiat bawahannya yang dinilai ugal-ugalan.
“Masa ada ASN, anak buah beliau,wujud-wujudnya kalau tidak ada sertifikat disuruh keluar… Bos, wartawan bukan pekerjaan, tapi profesi!” tegas Sudirman Halawa di depan pakai pengeras suara.
Massa aksi juga menyoroti inkonsistensi pejabat publik yang menuntut etika dari jurnalis, tetapi justru mengabaikan prinsip pelayanan publik yang adil dan tidak diskriminatif sebagaimana diamanatkan dalam regulasi kepegawaian. Oleh karena itu, massa mendesak Walikota Sibolga agar tidak melindungi bawahannya dan segera mencopot Denni Aprilsyah Lubis dari jabatannya.
Ancaman Eskalasi: Siap Bawa Kasus ke Propam Mabes Polri
Ketegasan sikap aliansi jurnalis juga ditunjukkan oleh wartawan senior Herbert Sitohang. Ia secara terbuka memperingatkan aparat penegak hukum agar tidak main-main dalam menangani perkara pelecehan profesi ini. Jika Polres Sibolga gagal memberikan kepastian hukum, aliansi wartawan memastikan akan membawa kasus ini langsung ke Divisi Propam Mabes Polri di jakarta.
Kalau kasus ini Denni Aprilsyah Lubis tidak segera diproses Polres Sibolga, kami akan melaporkan ke Divisi Propam Mabes Polri! Saya tidak takut, usia saya sudah 73 tahun, saya tidak takut mati, saya tidak takut sama preman,saya tinggal di Sibolga julu.. saya sudah punya cucu dari anak laki-laki dan anak perempuan, cucu saya kuliah di jakarta tandas Herbert Sitohang dengan penuh semangat di depan baris pengawalan aparat kepolisian dan Satpol PP Pemko Sibolga di dalam pagar kantor walikota Sibolga.
Aksi damai yang dikawal aparat keamanan kepolisian polres Sibolga ini menjadi peringatan keras bagi birokrasi di Sibolga dan Tapteng. Para jurnalis memastikan akan terus mengawal proses hukum dan menuntut tindakan nyata Walikota Sibolga demi menegakkan kebebasan pers serta menghentikan segala bentuk intimidasi terhadap pembawa informasi publik.
Aksi demonstrasi yang memanas di depan gerbang Kantor Walikota Sibolga tersebut akhirnya berakhir tanpa ada satupun pejabat Pemko Sibolga yang berani menampakkan diri untuk menemui sejumlah massa wartawan . Hingga aksi orasi bergulir dan bubar, Walikota Sibolga beserta oknum pejabat terlapor, Plh Asisten Pemko Sibolga Denni Aprilsyah Lubis, memilih bungkam dan bersembunyi di balik tembok kantor, mangkir dari tuntutan klarifikasi atas dugaan pengusiran wartawan yang videonya telah telanjur viral di berbagai platform media sosial.Jh

